Bunda, izinkan aku rengkuh tubuhmu, karena engkau orang yang paling berjasa yang ku temui. Bunda maafkan segala salah putramu ini, selama hidup bersamamu tak pernah aku dapati keluh kesah tampak pada dirimu. Begitu tulus engkau merawar dan mendidikku. Bunda engkau adalah pahlawaku.
Engkau ingatkan, hari ini adalah hari kelahiranku. Entah seperti apa perjuanganmu, aku tak mampu mengandai-andai, namun aku fahami betapa berat antara kematian dan keselamatan. Bunda tercinta…. Semoga Allah berikan rahmat-Nya kepadamu, panjangkan umurmu, mudahkan segala urusanmu. Hanya do’a yang dapat kupanjatkan kepada Yang Esa. Bunda aku ingin bersamamu.
Penggalan kata yang tergiang dibenak-ku, yah ceritanya hari ini 23/10/2010 Jam 12.30 aku dilahirkan dari Rahim seorang bunda yang mulia. Bunda mengingatkanku akan hal itu, sebenarnya aku juga ingat tapi yang paling mengesankan teryata bundaku lebih ingat dari aku. Betapa istimewa hari ini buat Ayah Bunda dan aku.
Kok istimewa ? alasannya ?… Yah, mungkin saja aku anak pertama, laki lagi. Gimana coba perasan seorang yang mengharap pertama anak yang ia lahirkan adalah laki-laki dan itu dikabulkan oleh Allah. Meskipun sebagian orang ia lebih senang dengan anak perempuan. Yah kalo bicara kayak gitu relative banget, tinggal siapa yang memandang. Apa lagi dulu pas aku dilahirkan aku ndak nangis, trus pada bingung, tapi aku masih nafas… wah sempet panic tuh, akhirnya aku dipukuli sama Ibuk-ibuk yang membantu ibu melahirkan, kalo orang jawa nyebutinnya ( Dukun Bayi ). He,he….
Berarti genap umurku 20 tahun, yah… udah gede, moga tambah dewasa. Udah mulai siap menyambut masa depan. Udah siap Nikah belom ya ? Kalo nikah sih secara Biologis udah kali, tapi kalo dari sisi finansialnya…. Duh capek deh, kerja aja belom, ngehidupin diri sendiri aja belom apalagi anak istri. Wuh,,, jauh banget. Aku teringat Syawal lalu, kakak sepupuku Nikah, kebetulan aku nemenin dia kondangan. Eh, dijalan mampir dulu kerumah, maklum perjalanan jauh pake sepeda motor, rambutku tampak acak-acakan. Sambil merapikan rambutku Ibu ngomong “ Duh putra ganteng banget, neh kakakmu udah nikah, lha kamu kapan ya ?”. dalam benakku aku Cuma senyum tergelitik,,,, batinku “ Udah siap kok buk, Cuma masih agak takut aja, lagian masih kuliyah”.
Ah bodo amat, Nikah urusan yang kesekian kalinya. Menurutku yang musti aku perbuat ketika dating masa kelahiran kita adalah :
- Dari segi keagamaan, yah banyak-banyak berintropeksi, muhasabah, akan amalan yang telah kita lakukan, dan akan dosa yang telah kita perbuat, baik kepada Sang Pencipta maupun kepada hambaNya. Bukankah umur bertambah juga semakin menambah kedekatan kita kepada kematian ? sudah pasti itu.
- Dari segi yang lain yah,,, misalnya masa depan cita-cita. Sebenarnya stressingnya juga sama, hanya saja caranya yang berbeda. Kalo cita-cita misalkan kita harus sesegera mungkin untuk memperjelas cita-cita yang masih kabur dan tidak menentu, bahkan kalo bias bikin aja program lima tahun kedepan. Mungkin lima tahun kedepan aku harus bias mencapai taget hidup sedemikian, atau kau harus mampu menguasai bidang ini atau yang semacam itu lah, yang penting spesifik aja. Gimana ? aku dah bikin lho…. Mpe lima tahun kedepan. Apa coba ? Nikah kah ? Study kah ? ah rahasia dong.
- Kayaknya yang urgen itu deh,
Temen-temen pasti menemui masa-masa seperti aku, aku ngerti perasaanmu saat itu, wah apa lagi kalo masih faham Ulangtahunisme, palagi kalo punya pacar, palagi kalo, palagi kalo, masih banyak lainnya ah.
Jangan terlalu berlalarut kegirangan dengan bertambahnya umur, kurasa itu hanya perbuatan anak-anak TK dan SD, namun mulailah membuat peta kehidupan, karena jika anda cowok yang belom nikah pasti cepat atau lambat anda akan menjadi seorang ayah dari anak-anak anda. Jika anda seorang putri yang belom dipersunting, maka anda akan menjadi ibu dari anak-anak anda, kecuali mereka-mereka yang tidak mau nikah. Bukankah anda tau betapa berat tanggung jawab ini. Ini dari satu sisi saja, belom yang lain.
Tapi inget jika ada penurunan dalam diri anda jangan sampai membikin anda putus semangat, tapi harus, yah harus tetap semangat. Jadikan ia sebuah pelajaran yang berharga, jadiakan sebagai cambuk yang mampu membangun.
Kawan, aku yakin kita kan capai cita dan harapan kita. Kawan jika engakau merasa sendirian kini aku putuskan tuk ku ulurkan tanganku agar kita dapat berjalan bersama menggapai cita. Karena aku yakin persahabatan ini akan lebih bermakna.
Arif Hidayat
Sabtu, 23/10/2010 M ( MA )
